"IQRA'/Bacalah !" Demikian perintah Malaikat Jibril saat wahyu pertama itu diterima Rasulullah Muhammad SAW. Sebagaimana Rasulullah pada saat menerima wahyu Ilahi itu, riwayat menjelaskan beliau sampai cemas dan bertanya "Ma Aqra'?" (apa yang harus kubaca ?). Salah satu kaidah tafsir menjelaskan; Apabila suatu kata perintah dalam susunan redaksi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala yang bisa dijangkau oleh kata tersebut. Maka dengan kata lain perintah "Iqra'/membaca" ini menjangkau seluruh ciptaan Tuhan dengan sifat dan ciptaanNYA.
IQRA' berasal dari kata QARA'A yang berarti "menghimpun". Kata ini dapat pula berarti menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dan sabainya.
Sejauh ini berbagai proses ilmiah dalam mengungkap rahasia ilmu telah dapat disaksikan bersama. Dengan serba kemungkinan, laju informasi membentuk sebuah peradaban yang dari waktu ke waktu pun makin unjuk kebolehan. Kebenaran ilmiah ini semakin sulit dibantah karena efek mutlak dari sebuah ilmu. Pemangkasan waktu terhadap jarak tempuh, penyempitan dunia lewat interkoneksi network, penelusuran angkasa luar, sampai kepada deteksi gejala-gejala alam, memberikan makna bahwa perubahan ini berangkat dari aktifitas dan efektifitas "membaca", satu istilah yang tidak kurang nilai ilmiahnya dari sosialisasi dan kritisasi. Pertanyaannya adalah benarkah visualisasi ilmu ini kemudian sedikit memberi penawar terhadap tingkat asusila dan kriminalitas ?
Sampai disini bayang-banyang materialisasi dan digitalisasi seharusnya semakin tunduk pada kebenaran mutlak, dan karena ilmu dan logika mengabaikan dan berseteru menantang iman, maka kembalikanlah seluruh definisi keilmuan itu kepada yang mempunyai ilmu itu sendiri dengan BISMIRABBIKALLADZII KHOLAQ (Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan).
Dengan melibatkan kehadiran Tuhan pada setiap aktifitas "membaca" niscaya objek bacaan apa saja yang dijangkau oleh kata "IQRA'" itu sendiri akan turut diwarnai oleh kemuliaan hidup sebagai anugerah dari Tuhan karena Tuhan Maha Mulia(WARABBUKAL AKRAM). Kemuliaan itupun bukan sekedar pada kemampuan dalam rangka pengadaan alat-alat yang mengantarkan pada aktivitas "membaca" itu sendiri (BILQALAM;dengan qalam), namun dari kemampuan itu, manusia juga mendapat jaminan agar dapat mengoptimalkan potensi insania untuk lebih maju ('ALLAMAL INSAANA MAA LAM YA'LAM; mengajarkan manusia apa yang belum diketahuinya). Ini membuktikan bahwa syarat utama dalam keberhasilan dan kedamaian umat adalah "IQRA'".
Sabtu, 20 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar