Kamis, 25 Maret 2010

Membaca dan melihat dengan hati

Ketika memasuki wilayah yang sebelumnya tidak terduga, ada saja asumsi, perkiraan, bayang-bayang atau apa saja yang justru ingin mengidentifikasi sesuatu. Semakin jauh kita mengejar sesuatu itu semakin penasaranlah kita. Saudaraku, ini bukan perkara objek yang terlihat. Namun ini merupakan sesuatu yang bermakna, berhakikat. Seperti halnya apa yang kita lihat sehari-hari, sesungguhnya tersimpan sebuah argumentasi yang tak terbantahkan bahwa kita tidak 'melihat' dengan mata. Atau, kita seyogyanya melihat dengan penglihatan apresiasi. Ketika melihat hari telah terang padahal sebelumnya malam gelap, semula kita tidak menemukan apa-apa hanya saja karena berangkat dari sebuah kebiasaan. Mungkin itu telah berulang kejadiannya. Tapi marilah kita, dengan tidak memandang faktor keseringan itu, kita gunakan unstrumen jiwa untuk melihat aktifitas yang telah berulang-ulang itu. Setujukah kita kalau siang yang datang itu adalah karena bumi masih berputar ? Ok, sepintas kita dapat mengargumentasikan analisis ilmiah bahwa 150 juta km jarak matahari dengan bumi melahirkan sorot fokus energi cahaya pada sebagian wilayah permukaan bumi. Oleh karena perputaran bumi pada porosnya dan keliling edaran lingkaran rotasi telah memberikan efek pencahayaan, siang dan malam. Lebih jauh ekspedisi ini akan membelokan kita kepada pembangkangan ilmiah Galileo, Colombus dan lainnya itu karena merekapun membentuk galaksi pada alam pikiran mereka sendiri dengan perhitungan fisis dan matematis melahirkan sejumlah penemuan ilmiah dan rekomendasi tentang konstelasi galaksi yang mengejutkan. Maka siang dan malam, bagi daya penasaran dan keingintahuan, tidak saja merupakan efek yang keseringan itu melainkan terdapat isyarat ilmiah yang mencengangkan. Isyarat itu kemudian mempertanyakan dengan kontemlasi alamiah, adakah semua itu terjadi dengan sendirinya ? ataukah dengan seleksi alam ? Inilah cara bagaimana hati membongkar tatanan logika. Sejauh yang dapat dipresentasikan, otak memang memiliki peranan penting dalam observasi. Otak mendefinisikan segala yang ditangkap oleh mata. Otak mengurai unsur-unsur yang terdapat dalam setiap partikel yang tersusun untuk disebutkan sebuah definisi dari apa yang tertangkap oleh mata. Otak pulalah yang memisahkan benar salah suatu fakta. Otak yang mensinyalir adanya kemungkinan-kemungkinan dari setiap jawaban yang telah dilontarkan. Dan otak pulalah yang merumuskan langkah-langkah kehidupan. Demikian betapa penting perangkat pengetahuan ini. Namun, seyogyanya kinerja otak ini tidaklah hanya sesampai kepada yang mengagumkan itu. Masih ada tanggungjawab individu yang patut dituangkan sebagai ilmuan, pengambil kebijakan, atau penentu keputusan. Sedikit banyak dapat dikemukakan bagaimana hebatnya guncangan ketika melakukan aktifitas yang bersentuhan dengan pilihan hendak maju atau mundur, ragu akan kebenaran sesuatu itu atau malah sebaliknya menyalahkan, maka setiap individu merasakan tepat di ruang lain di dasar jiwa tedapat instruksi kebenaran yang secara sengaja dibenamkan dalam diri. Nah, disanalah bersemayamnya monitor kebenaran, kameranya ALLAH. Kita tidak mempersoalkan inikah yang disebut 'Godspot' (titik Tuhan) atau jati diri dalam bahasa budaya. Tapi marilah kita melihat dan menebak dari manakah bisikan itu. Bukankah bisikan itu berbeda katika datang suasana bisikan yang serupa tapi agak provokatif. Sekali lagi, instruksi kebenaran itu, telah ada jauh sebelum telinga, mata dan hati ini bersentuhan dengan alam dunia. Maka dari rasanyapun telah jauh berbeda. Bisikan kebenaran biasanya al-hidayah; Jujur dan langsung, tidak mengajak beradu argumen. Sebaliknya bisikan yang melenakan, membanding-bandingkan, provokatif, dan mendikte adalah siulan menyesatkan. Sejauh-jauh yang bisa ditempuh otak, hati jugalah yang memutuskan. Maka kekaguman haruslah dilandasi kerendahan hati. Setinggi-tinggi penalaran otak, sedalam-dalam penyelidikan hati. Tidak heran, tidak sedikit kecerdasan yang ditopang ketajaman mata hati menyelamatkan sang pemikir dari bius kekaguman dan gelapnya kesesatan. Maka apapun objek atau landasan dimana kita menjadi pelaku utama atau pengambil kebijakan maka semua itu akan memberikan aplikasi murni bernurani. Sebelumnya, Enstein pernah menyesalkan akibat dari relativitasnya ketika ia bicara kedamaian sehingga baginya terlalu sulit mendamaikan antara hatinya dengan fakta sebagaimana tertuang dalam kumpulan surat-suratnya. Padahal keajaiban-keajaiban sering ia jumpai dalam setiap penelitiannya yang menggetarkan. Ia percaya adanya desain yang maha agung, ia menerima teori tekanan yang melahirkan keseimbangan alam. Namun semua itu belum dapat membentenginya dari keputus asaan terhadap hantaman perang dunia akibat laju ilmu menjadikan ia seorang yang pasifis. Dibelakang itu, Karl Marx, sesepuh kaum materialist. Tidak percaya dengan agama. Lalu mengganti dengan pemahaman materi dengan teori-teori lisensi. Akibatnya iapun terkulai menatap negerinya dengan segudang asusila dan kriminalitas tajam. Sigmun Freud, meramu eksistensi biologis sebagai penyakit yang harus disalurkan dengan tidak memperhatikan bingkai agama, akibatnya sang suhu pun tak berdaya ketika kesetaraan gendre mulai didengung-dengungkan. Pendeknya, apapun obyektifitas ilmu dimiliki, semuanya bergantung pada nurani individu yang memiliki instruksi kebenaran mutlak. Sebab hati tidak pernah dusta. Hati, dalam sifatnya memiliki daya tampung dua hal yang berbeda dan, hal ini sama sekali tidak bisa diperankan oleh akal. Bagi akal, cinta dan benci adalah fakta yang bertentangan dan jelas beda. Namun hati menampung keduanya. Hati selanjutnya memberikan visualisasi dari setiap yang bercermin padanya, sebaliknya akal, ia hanya dapat di tebak ketika semua terealisasi dari susun kata dan bobot argumentasi. Sehingga wajarlah kalu ada yang mengatakan, diam merupakan salah satu bukti bahwa dia mengambil keputusan. Hal ini disebabkan karena hati itu sendiri memancarkan sifat hakiki. Ini berarti hati lebih transparan daripada akal. Meskipun misalnya kita tidak mungkin menebak isi hati orang tapi minimal hal itu dapat dirasakan. Istimewanya adalah bahwa hati itu sendiri merupakan instrumen indrawi yang selalu jujur. Filosofi semacam ini mengajarkan kepada kita bahwa jangan tanya orang lain siapa diri ini karena hati inilah yang akan mengurai dengan afik siapa kita sebenarnya. Lalu, mungkinkah karena hanya kita yang tahu bahwa hati tidak memiliki esensi hukum kemudian kita dapat dengan seenaknya bertingkah ? Saudaraku, hati adalah partikel terkecil yang dipasang secara paralel yang linear dengan rasa diantara mahluk. Mendustai kata hati berarti mendustai kebenaran. Lalu bagaimana mungkin tidak berpengaruh ? Mungkin kita tidak tahu atau tidak sempat mendengarkan bagaimana reaksi makhluk Allah yang satu ini ketika ia menyaksikan hal-hal yang melampawi batas kewajaran. Partikel yang dikenal dengan "anggukan universal" ini akan secara jelas dengan kepekaannya mengutuk tindakan apapun yang di luar batas kewajaran itu. Dalam hal ini kita dapat mengilustrasikan bagaimana penjaga monitor kamera CCTV setelah menangkap data yang mencurigakan. Otomatis penjaganya tidak akan membiarkan, misalnya pencuri, lolos begitu saja. Dan lihatlah disana Saudaraku, di ruangan CCTV itu, ratusan monitor dari ratusan kamera di lokasi yang berbeda menyoroti setiap inci gerak-gerik dan tidakan yang sama. Ilustrasi ini kurang lebih menggambarkan bagaimana hati ini bekerja. Semua kebohongan sama di matanya dari sudut pandang manapun kita melihatnya. Imam Ali Karramallahu Wajhahu berpesan kurang lebih maknanya; "Tuhan melihat dengan hati yang dipasangkan pada setiap manusia dan kesendirian adalah pandanganNYA". Maka berhati-hatilah dengan hati sampai kita memastikan bahwa otak ini adalah sebagian kecil dari makna hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar